A Pilgrimage to Andalusia: Cordoba

By Nur Inda Jazilah - Desember 31, 2018

Perjalanan Granada - Cordoba memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Kami bertolak ke Cordoba dari stasiun bus Granada pada pukul 19.00 tetapi entah kenapa waktu itu perjalanan memakan waktu hampir tiga jam. Meski lebih dari separuh perjalanan saya habiskan dengan tidur, ada beberapa waktu dimana Mila membangunkan saya dan memberitahukan pemandangan bagus selama perjalanan. Perpaduan antara langit malam yang cerah dan lampu-lampu menjadikan perjalanan lebih syahdu. Syahdu untuk menemaniku ke alam mimpi.

Setibanya di Cordoba, kami perlu naik bus untuk menuju penginapan. Tips keenam: pastikan kalian bisa mengakses ke kunci penginapan. Kami hanyalah mahasiswa misqueen yang hanya mampu menjangkau kamar murah di Airbnb, bodohnya sampai di perjalanan menuju Cordoba saya masih belum tahu bagaimana caranya ambil kunci kamar haha. It was fine with the room in Granada, host kamarnya lumayan responsif. Nah, yang di Cordoba ini akun host Airbnb-nya nggak responsif. Namanya juga travelling, nggak seru dong kalo perjalanannya mulus #ngeles.

Saya juga sempat cek di review laman kamar Airbnb yang kami sewa. Tips ketujuh: budayakan membaca dan memberi review. Dari membaca review, saya tahu kalau saya perlu pergi ke salah satu hotel di dekat penginapan untuk mengambil kunci. Trus, kenapa memberi review? Hidup di dunia hanya sementara, khairun naas anfa'uhum linnas  salah satu cara untuk menjadikan hidup kita lebih bermanfaat adalah dengan memberikan review dan catatan yang mungkin saja berguna untuk orang lain. Semacam bagaimana saya mendapatkan wangsit dimana harus mencari alamat palsu kunci.

Resepsionis hotel tempat kami mengambil kunci was super nice. Dia bahkan memberikan kami brosur secara cuma-cuma dan menjelaskan tourist attractions yang bisa kami kunjungi. Salah satunya informasi bahwa si Mezquita bisa dikunjungi gratis pada pagi hari, antara jam 8.30 dan 9.30, dari hari Senin sampai dengan Sabtu. Tips ketujuh: jangan malas untuk mencari di internet terkait informasi tentang tempat yang akan kalian kunjungi. Bahwa saya baru tahu jika informasi tentang kunjungan gratis ini ada di website si Mezquita – berlaku untuk kalian pecinta gratisan. Bahwa jika kalian adalah mahasiswa di bawah 26 tahun masih bisa dapat tiket separuh harga. 

Sampai di tempat penginapan, bebersih diri dan berencana untuk melanjutkan menulis paper yang tertunda. Yaahh, lagi-lagi manusia hanya bisa berencana. Begitu tangan ini dengan entengnya scrolling Instagram, I was ended up sleeping at three in the morning haha. Sebegitunya distraksi dari media sosial, tidak untuk ditiru apalagi ditengah deadline yang bertubi-tubi.
Lorong setelah pintu masuk Mosque-Cathedral of Cordoba
Hukum alam berlaku dimana tubuh meminta lebih banyak waktu untuk istirahat jika tidur terlalu larut. Apa daya, alarm jam 6 bangunnya jam 8 haha. Rencananya jam 8.30 sudah di Mezquita, kami 8.30 baru masak mie instan hasil beli di salah satu supermarket Asia sewaktu turun dari Alhambra. But we made it tho, jam 9 kami baru masuk ke Mezquita disambut dengan desain ikonik Mezquita.

Before we are going into the details, let me tell you a little about the city, Cordoba. Cordoba adalah ibukota dari provinsi Cordoba yang pada awalnya adalah pemukiman Romawi yang kemudian diambil alih oleh Kerajaan Visigoth, sebelum pada akhirnya direbut oleh tentara Islam pada abad kedelapan. Kota ini kemudian menjadi ibukota dari kekhalifahan Islam, kemudian kekhalifahan Cordoba, yang wilayahnya mencakup sebagian besar semenanjung Iberia. Pada kurun waktu ini, Cordoba menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran – yang kemungkinan menjadi kota paling besar di Eropa pada abad ke-10. Cordoba adalah rumah dari buah karya arsitektur bangsa Moor, salah satunya dapat kita lihat di Mezquita ini. Mezquita sendiri sudah menjadi salah satu warisan budaya yang diakui UNESCO sejak tahun 1984. Sayangnya, kini bangunan ini berfungsi sebagai sebuah katedral.
Prayer Hall di Mezquita
Asumsi saya, prayer hall ini adalah bangunan orisinil masjid pada masa pemerintahan Abdul Rahman I. Masjid Aljama ini terinspirasi dari Masjid Al Aqsa di Yerusalem dimana ruang utamanya dibagi menjadi sebelas bagian yang lurus dengan dinding kiblat. Aljama mengalami beberapa kali perluasan diantaranya pada masa Abdul Rahman II, Al Hakam III, dan Al Mansur. Pada masa Abdul Rahman II perluasan masjid menghasilkan bertambahnya luas prayer hall menjadi delapan bagian baru ke arah selatan. Sayangnya, perluasan pada waktu ini berujung pada perobohan dinding kiblat yang lama dan menggantinya dengan dinding kiblat baru. 

Perluasan masjid pada masa Al Hakam II berupa penambahan dua belas kapel ke arah selatan memanjang hingga Maqsurah dan Mihrab. Ruangan dalam masjid diperkaya dengan penambahan empat  langit-langit: satu pada pintu masuk (area yang diperluas) dan tiga sebelum mihrab. Selain itu, konsep dekorasi juga ditonjolkan pada masa ini dengan menggunakan motif tumbuhan, pualam, dan mozaik.
Mihrab di Mezquita
Mihrab ini dapat ditemukan di area Maqsurah, di area tengah dinding kiblat – diantara ruang keuangan dan Sabat. Terlihat jelas bahwa Al Hakam II ingin menonjolkan keindahan dari mihrab ini terbukti dengan dekorasi ayat Al Qur'an yang mengelilingi tiang. Desain mozaik pada mihrab ini adalah salah satu bentuk tradisi Byzantium sebagai salah satu karya seorang seniman yang dikirim oleh Emperor Nicephorus II.

Perluasan yang ketiga dilaksanakan pada masa Al Mansur yang tidak begitu banyak menyumbang pada sisi artistik. Akan tetapi perluasan ruang pada masa ini ditandai dengan bertambahnya delapan bagian baru ke arah timur yang berujung pada perluasan halaman pada area timur masjid dimana sebuah tank bawah tanah ditambahkan. Dua gambar di bawah ini adalah beberapa dari benda yang dipamerkan di area yang diperluas pada masa Al Mansur.
Pelindung jendela (circa 1920)
Batu nisan dari dinasti Nasrid: Al Mu'tamid Abu Surur Mufarrah dan Abu Naim Riduan (1440)
Bell Tower
Bell tower Mezquita yang merupakan bangunan tertinggi di kota Cordoba ini tingginya mencapai 54 meter. Minaret ini dibangun pada masa Abdul Rahman III. Meski beberapa bukti mengarah pada kemungkinan bahwa minaret yang asli awalnya dibangun pada masa Al Hisyam I – yang menjadikan minaret ini adalah yang tertua di Andalusia, tetapi perluasan area taman pada masa Abdul Rahman III merobohkan minaret lama dan menggantinya dengan minaret baru yang luhung, serta menginspirasi pendirian minaret lain di Seville, Maroko, dan Rabat. Setelah Reconquista, minaret Aljama diubah menjadi bell tower dan masih digunakan hingga tahun 1589 sebelum gempa bumi terjadi. Paska gempa bumi, diputuskan untuk membangun tower baru dan menutupi sisa-sisa arsitektur kekhalifahan.
The Bell Tower in detail
Lucunya, penginapan kami terletak di pojok belakang Mezquita. What a surprising coincidence. Gambar diatas saya ambil dari lantai dua penginapan.
Muka udah laper lagi. Mila Muthia ⓒ
Overall, waktu setengah jam saya rasa cukup untuk mengelilingi Mezquita meski belum puas sampe ke pojokan-pojokannya. Dan gra-tis. But yeah, we have already asked to go out at around 9.15. Tips kedelapan: segeralah istirahat dan bangun sepagi mungkin untuk mengeksplor kota yang sedang dikunjungi. Nah kalau winter time, jam 8 aja masih gelap cuy di luar. It's your challenge, then.

Selesai eksplorasi Mezquita, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan – berbenah dan check out. Kami memutuskan untuk menitipkan semua barang bawaan termasuk tas punggung, syal, dan jaket ke loket yang ada di stasiun bus Cordoba. Menitipkan backpack dirasa pilihan terbaik sebelum encok menyerang backpack saya 6.5 kg beratnya haha. Perjalanan terasa lebih ringan dengan hanya berbekal kamera, handphone, card holder, dan sunglasses.
Makan siang
Setelah menitipkan barang di loker, kami memutuskan untuk makan siang. Oya, kami cukup merogoh kocek sebesar 5 EUR untuk menitipkan tiga buah backpack dan dua winter coat. Kami sengaja mencari tempat makan yang berada di area tourist attraction tujuan kami selanjutnya. Pilihan kami jatuh pada salah satu rumah makan halal, Restaurante Damasquino Halal. Masakannya enak, harganya nggak jauh beda dengan Amsterdam, dan penjualnya super ramah. 
Puerta del Puente
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan sungai Guadalquivir. Here it is, Puerto del Puente – gerbang pintu masuk kota Cordoba. Gerbang ini pernah direnovasi pada tahun 1572. Di seberang gerbang, dapat dijumpai Roman bridge. Jembatan ini pada awalnya dibangun oleh bangsa Romawi pada abad kesatu sebelum masehi. Kemungkinan, jembatan ini dibangun dengan menggunakan material kayu. Jembatan dengan total panjang 247 meter dan lebar 9 meter ini juga sudah mengalami beberapa kali rekonstruksi. Mayoritas struktur bangunan jembatan yang bisa dinikmati sekarang ini adalah hasil rekonstruksi bangsa Moor pada abad kedelapan. 
Roman Bridge and Guadalquivir River
Yang menarik (linguistically) adalah sungai Guadalquivir, I think. Kata Guadalquivir ini sesungguhnya berasal dari frasa Bahasa Arab الوادي الكبير yang berarti lembah yang luas. Entah itu bagaimana ceritanya hingga lidah orang Spanyol mentransformasi kata itu secara fonologis menjadi Guadalquivir. Sungai ini adalah sungai terpanjang kedua di Spanyol. Selama bangsa Moor berkuasa, mereka menempatkan sebuah galangan kapal dan Torre del Oro (Tower Emas) pada sungai ini.
Hati-hati, dek!
Melanjutkan perjalanan, tadinya kami berfikir untuk mengunjungi sinagog. Eh ternyata sinagognya sudah mau tutup. Banting setir, kami mengarah ke Alcazar de Los Reyes Cristianos. Setelah menengok harga tiket masuk si Alcazar ini, kami batal masuk area Alcazar dengan pertimbangan akan mengunjungi Real Alcazar di Seville. Mahasiswi misqueen emang haha. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke titik terjauh di peta warisan mas-mas resepsionis, ke Palacio de Viana. Di perjalanan, kami menjumpai spot foto ini yang sayang saja jika tidak diabadikan.
ATM
Berjalan terus, dan kami menemukan mesin tarik tunai yang tidak ramah terhadap orang semampai seperti saya. Semeter setengah tak sampai. Tinggi banget bro, tombol pencetannya aja hampir sedagu haha.
Plaza de Las Tendillas
Dalam perjalanan, agak susah untuk menemukan toilet. Indonesia memang juara where you can numpang pipis di mall. Ini sih judulnya Plaza de Las Tendillas, semacam shopping centre, tapi yaa you may be not be able to find any toilet unless you nunut ke resto di sekitar. That was what my friend did  – numpang pipis di resto.
Roman Temple
Next destination, Roman temple. Reruntuhan ini ditemukan pada tahun 1950-an ketika ekspansi area city hall dilakukan. Pembangunan temple ini membutuhkan waktu sekita 40 tahun dengan tinggi 32 meter dan lebar 16 meter. 

Masih menuju Palacio de Viana, kami menemukan spot foto yang menarik seperti di bawah ini.
Siram bunga dulu, sis!
Pada akhirnya, kami sampai di Palacio de Viana tapi memutuskan untuk tidak masuk #MahasiswaLabil haha. Masih ada sisa beberapa waktu sebelum jam keberangkatan bus kami, saya mengusulkan untuk mengunjungi La Casa Andalusi, sebuah museum tentang Andalusia. 
La Casa Andalusia
Tampak diatas adalah pintu masuk museum. Untuk masuk museum ini, harga tiketnya adalah 4 EUR. Museum ini terletak di Jewish Quarter di Cordoba, bersebelahan dengan sinagog yang gagal dikunjungi. Museum yang dibuka pada tahun 1997 ini bak lorong waktu yang membawa pengunjung merasakan Andalusian feel dari musik yang diputar dan mentransportasi pengunjung kembali pada masa kekhalifahan.
Rabi'a Al Adawiyah
Sebuah pajangan dinding di atas lorong menuju lorong bawah tanah, tipikal bangungan di kompleks Yahudi ini. Rabiah Adawiyah, seorang mistikus Muslim, mengatakan "aku begitu mencintai Tuhan sehingga aku tak punya waktu bahkan untuk membenci iblis". Thanks, Google translate! 
Patung Ibnu Sina, seorang kebangsaan Persia yang dikenal sebagai salah seorang dokter, astronomer, pemikir, dan penulis muslim pada masa keemasan Islam. 
Masuk ke ruangan museum, disambut dengan paper museum yang menggambarkan pabrik kertas pertama di dunia Barat. Di ruangan ini berisi alat-alat yang digunakan untuk memproduksi kertas pada masa kekhalifahan. Penemuan pabrik kertas dan percetakan adalah warisan Cina pada abad pertama masehi. Kemudian pada abad kesepuluh, Muslim membawa penemuan ini ke Baghdad, Spanyol, dan area Eropa lainnya yang menjadikannya batu loncatan untuk perluasan pengetahuan universal. 
Alat yang digunakan untuk memproduksi kertas pada masa kekhalifahan
Di dalam ruangan ini kamu juga dapat temukan puisi-puisi Andalusia tertulis di atas kertas dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Tertulis di brosur informasi yang bisa kamu dapatkan di pintu masuk, "... so that when you return home, you can remember this eternal moment forever." Beberapa benda yang dipajang di ruangan ini seperti di gambar di bawah ini.

Kamu juga akan menjumpai miniatur banos atau hammam (kamar mandi) yang jamak dipakai pada masa kekhalifahan.
A Bath Miniature
Ruang di sebelah kanan pintu masuk dapat ditemui semacam ruangan pribadi yang berisi buku-buku dan beberapa gamis. Mayoritas buku di ruangan ini berbahasa Spanyol, salah satunya adalah La Vida de Muhammad yang berisi tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

La Vida de Muhammad
A Mirror Selfie (again)
Kunjungan museum Andalusia ini ditutup dengan a mirror selfie haha. "Sekarang kita sok-sok candid, nggak usah lihat cermin, tapi lihat kamera aja," Mila said.
Awalnya kami ingin kembali menengok Roman bridge yang semakin malam semakin cantik dengan lampu-lampunya. Dalam perjalanan kami merasa waktu tidak akan cukup untuk mengejar bus ke stasiun Cordoba. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke salah satu fast food restaurant untuk makan malam. Akan tetapi, tetep. Lorong ini terlalu edgy untuk tidak dijadikan obyek foto. Haha.
Cordoba Bus Station - waiting for a bus to Seville
Kami tiba kurang lebih seperempat jam sebelum jam keberangkatan bus. Ambil barang di loker, melanjutkan makan malam yang tertunda, dan ngobrol-ngobrol cantik.

Cordoba was really enjoyable. Almost all tourist attractions that were recommended by the receptionist are in a walking distance. So, don't worry about spending your money on public transportations but do spend your money on food because it's the fuel that keeps you going wakaka

Amsterdam,
03.00 Dec 31, 2018
Kejar setoran nulis sebelum liburan (lagi)

  • Share:

You Might Also Like

1 comments